Langsung ke konten utama

Semudah Itu


Untuk ke sekian kali gue dibuat tercengang oleh tingkah makhluk yang bernama manusia. Asli, manusia itu ajaib banget. Paling bisa ngomong “tempe”, eh yang dilakuin “cabe”. Paling bisa membatalkan janji tanpa ngasih tahu lebih dulu. Paling bisa punya utang tapi gak dibayar-bayar. Paling bisa dimintai tolong awalnya bilang “ya” besoknya bilang “gak” tanpa alasan yang jelas, padahal dulunya kalau mereka minta tolong selalu dibantu. Bisa gitu ya? Bisa gitu semudah itu?

Kadang gue mikir, mereka gak merasa apa kalau pas mereka membatalkan janji ada orang yang meluangkan waktu sedemikian rupa di tengah kesibukannya. Mereka gak mikir apa kalau dibalik utang yang belum mereka bayar ada orang yang bingung besok beli makan pakai apa. Mereka gak merasa apa bahwa ketika ada orang yang minta tolong pada mereka ada orang yang bergantung sama mereka.

Gue yang pernah di posisi itu rasanya mau nangis. Kenapa kebaikan kadang dibalas dengan cara seperti itu. Sampai suatu ketika temen gue bilang, “Tidak ada yang salah dengan berbuat baik, yang salah itu justru orang yang tidak berbuat baik. Jadi jangan pernah berhenti berbuat baik.”

Gue setuju sama pendapat itu. Bahkan sekarang cara gue membalas orang yang “jahat” sama gue adalah dengan kebaikan. Gue baik-baikin tuh orang sampai orang itu malu. Gak patut ditiru sih niatnya. Cuma gue merasa lebih puas seperti itu. Yah, minimal kalau gak malu, orangnya berubah jadi baik. Karena menurut gue, kejahatan dibalas kejahatan cuma bikin luka batin, menguras emosi dan energi. Gak penting.

Dari kejadian “sekarang tempe besok cabe” ini gue dapet pelajaran bahwa orang yang baik adalah orang yang hati, kata dan perbuatannya sama. Kejadian ini juga mengajarkan gue bahwa gak sepatutnya gue percaya 100% sama makhluk yang bernama manusia. Cukup percaya dan berharap sama Tuhan.

Komentar