Langsung ke konten utama

Postingan

Tukang Ngeluh

Hei kamu yang suka mengeluh. Boleh aku mengeluh padamu? Gue setuju bahwa beban hidup manusia itu memang berat. Dan wajar bila sesekali manusia mengeluh. Karena ada saatnya dengan mengeluh, beban hidup terasa berkurang. Tapi ingat, ‘sesekali’ ya. Karena kalau ada orang yang ‘selalu’ mengeluh tentang pekerjaan, keuangan, pertemanan dan sebagainya, gue curiga orang tersebut ada indikasi tidak bersyukur. Dan gue agak benci gimana gitu dengan orang yang mengeluhkan hasil yang ia dapatkan padahal yang ia lakukan tetap sama. Menurut kalian gimana deh kalau ada orang yang ‘selalu’ mengeluhkan gaji di perusahaan x yang sedikit (misalnya), tapi orang tersebut tetap bekerja perusahaan x. Atau, contoh sederhananya ada orang yang mengeluh nilai ujiannya jelek, padahal orang tersebut memang gak belajar. Atau, ada orang yang mengeluh uangnya cepat habis, padahal memang gaya hidupnya boros. Menurut gue, orang itu gak berhak mengeluh. Kenapa? Karena mereka sudah memilih, dan apa yang mere...

Merelakan

Kalian pernah gak merasa sangat nyaman dengan seseorang? Seseorang yang bisa menerima kita apa adanya baik di kondisi senang maupun susah, layaknya keluarga. Dan kita gak perlu jaim saat berhadapan dengan dia. Gue punya. Keberadaannya seperti keluarga. Gue bisa menjadi apapun dan bercerita apapun ke dia. Tapi satu hal yang gak bisa gue cerita ke dia. Gue sayang dia. Dia adalah sahabat gue. Sahabat yang selalu ada buat gue. Saat gue lagi happy dia ada. Pas gue lagi terpuruk dia nemenin gue dan menghibur gue. Begitupun gue ke dia. Pas dia lagi susah gue ada. Trus ketika dia lagi seneng biasanya kita merayakannya bareng. Gue kira dia jodoh gue. Sampai suatu ketika dia memberi kabar bahwa dia akan bertunangan dengan orang lain. Selamat. Kata itu terucap kelu dari mulut gue. Ada perasaan menyesal tiada tara saat dia memberi kabar buruk bahagia itu. Gue menyesal kenapa gue gak pernah punya keberanian buat mengatakan gue sayang dia. Gue meringkuk menyesali kebodohan gue selama ini....

Semudah Itu

Untuk ke sekian kali gue dibuat tercengang oleh tingkah makhluk yang bernama manusia. Asli, manusia itu ajaib banget. Paling bisa ngomong “tempe”, eh yang dilakuin “cabe”. Paling bisa membatalkan janji tanpa ngasih tahu lebih dulu. Paling bisa punya utang tapi gak dibayar-bayar. Paling bisa dimintai tolong awalnya bilang “ya” besoknya bilang “gak” tanpa alasan yang jelas, padahal dulunya kalau mereka minta tolong selalu dibantu. Bisa gitu ya? Bisa gitu semudah itu? Kadang gue mikir, mereka gak merasa apa kalau pas mereka membatalkan janji ada orang yang meluangkan waktu sedemikian rupa di tengah kesibukannya. Mereka gak mikir apa kalau dibalik utang yang belum mereka bayar ada orang yang bingung besok beli makan pakai apa. Mereka gak merasa apa bahwa ketika ada orang yang minta tolong pada mereka ada orang yang bergantung sama mereka. Gue yang pernah di posisi itu rasanya mau nangis. Kenapa kebaikan kadang dibalas dengan cara seperti itu. Sampai suatu ketika temen gue bilang,...

Kembali

Setelah 3 tahun lamanya meninggalkan dunia blog, hari ini saya memutuskan untuk kembali. Sejauh ini saya belum menemukan tempat paling nyaman untuk menceritakan apapun selain blog. Akun ini sengaja saya anonimkan agar saya bisa bebas bercerita tentang apapun. Saya akan bercerita tentang saya dan manusia di sekitar saya yang mungkin tidak dapat saya ceritakan dengan leluasa ketika di dunia nyata. Semoga siapapun yang membaca dapat mengambil hikmah dan pelajaran.